Perihal Asuransi Menurut Pandangan Agama Islam

Produk asuransi yang menguntungkan | Pengertian asuransi adalah jaminan atau perdagangan yang diberikan oleh penanggung kepada yang tertanggung atas risiko kerugian yang timbul atas terjadinya peristiwa buruk, musibah, atau bencana sesuai dengan yang ditetapkan dalam surat perjanjian yang oleh karena perjanjian tersebut tertanggung diwajibkan untuk membayar premi.

Sedangkan menurut A. Abbas Salim pengertian asuransi ialah suatu kemauan untuk menetapkan kerugian-kerugian kecil yang sudah pasti sebagai pertanggungan terhadap kerugian-kerugian besar yang belum pasti.

Jadi, konsep asuransi itu sama dengan orang yang bersedia membayar kerugian yang sedikit pada masa sekarang untuk persiapan menghadapi kerugian-kerugian besar yang mungkin terjadi pada masa yang akan datang.

Baca juga: 4 Jenis Produk Asuransi Jiwa Untuk Orangtua Berusia Lanjut

Misalnya, seseorang yang mengasuransikan rumahnya dalam produk asuransi kebakaran. Orang itu bersedia membayar premi kepada perusahaan asuransi yang mana bila terjadi kebakaran atas rumahnya maka perusahaan asuransi akan mengganti kerugian-kerugian yang timbul akibat terjadinya kebakaran tersebut.

Kita mengenal berbagai macam produk asuransi yang ada di Indonesia, di antaranya Asuransi Pendidikan, Asuransi Dwiguna, Asuransi Jiwa, Asuransi Kecelakaan, Asuransi Kesehatan, dan lain-lain.

Asuransi sudah cukup memasyarakat di Indonesia yang sebagian besar penduduknya beragama Islam. Diperkirakan, umat Islam sudah banyak yang terlibat di dalamnya. Meski demikian, ada juga anggapan di kalangan umat Islam yang mengatakan bahwa asuransi tidaklah Islami.

Sebenarnya, orang yang terlibat dalam asuransi merupakan salah satu wujud ikhtiar untuk menghadapi masa depan dan masa tua. Namun, perihal asuransi memang tidak dijelaskan secara tegas di dalam Al Quran maupun Hadist, maka masalah tersebut dipandang sebagai masalah Ijtihad, yaitu perbedaan pendapat yang juga mesti dihargai oleh umat.

Sebagian ulama mengatakan bahwa hukum Asuransi dalam segala macam bentuknya adalah haram. Salah satu pendapat tersebut dikemukakan oleh Sayyid Sabiq Abdullah al-Qalqii Yusuf Qardhawi dan Muhammad Bakhil al-Muth’I dengan asalan sebagai berikut:
1. Asuransi sama dengan judi.
2. Asuransi mengandung unsur-unsur ketidakpastian.
3. Terdapat unsur riba di dalam asuransi.
4. Adanya unsur pemerasan di dalam asuransi karena ketika pemegang polis tidak dapat melanjutkan pembayaran preminya setiap bulan, maka uang pertanggungan akan hilang.
5. Premi-premi yang sudah dibayar akan diputar dalam instrument investasi dan disinyalir terjadi praktik riba di dalamnya.
6. Hidup dan mati seseorang dijadikan sebagai objek bisnis yang sama halnya dengan mendahului takdir Allah subhanallahu wata’ala.

Sementara itu, ada pula sebagian ulama yang membolehkan praktik asuransi selama asuransi tersebut menggunakan sistem mudharabah. Seperti pendapat yang dikemukakan oleh Abd. Wahab Khalaf Mustafa Akhmad Zarqa Muhammad Yusuf Musa dan Abd. Rakhman Isa, dengan alasan sebagai berikut:
1. Tidak ada ayat dalam Al Quran maupun Hadist yang melarang asuransi.
2. Adanya kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak.
3. Adanya sifat saling menguntungkan untuk kedua belah pihak.
4. Asuransi termasuk akad mudharabah, atau seperti koperasi.
5. Asuransi dianalogikan sama dengan sistem pensiun atau tabungan simpanan pensiun.

Namun masih ada pendapat ketiga yang dikemukakan oleh Muhammad Abdu Zahrah yang mengatakan bahwa hanya asuransi bersifat sosial yang diperbolehkan, sedangkan asuransi yang bersifat komersial diharamkan. | Produk asuransi yang menguntungkan

Perbedaan pendapat di kalangan para ulama ini memang menimbulkan pertanyaan dan keraguan, sehingga agak sulit untuk menentukan mana pendapat yang paling dekat dengan ketentuan hukum Islam yang benar.

Oleh karena itu, baru-baru ini mulai digalakkan dalam masyarakat asuransi menurut ajaran agama Islam dengan macam yang sama namun sistem kerja berbeda, yaitu adanya sistem mudharabah.

Dalam asuransi takaful berdasarkan syariah, terdapat beberapa macam produk, di antaranya sebagai berikut:


1. Takaful Kebakaran

Takaful kebakaran bertujuan untuk memberikan perlindungan terhadap kerugian yang timbul akibat musibah kebakaran yang menimpa harta benda seperti toko, industri, kantor, rumah, dan lain-lain.

Musibah kebakaran yang dimaksud bisa diakibatkan oleh korsleting listrik, ledakan gas, sambaran petir, kecelakaan pesawat terbang, dan lain-lain.


2. Takaful Pengangkutan Barang

Takaful ini memberikan perlindungan terhadap kerugian atas harta benda yang sedang dalam pengiriman apabila terjadi risiko yang disebabkan kendaraan pengangkutnya menalami musibah atau kecelakaan.


3. Takaful Keluarga

Dalam takaful keluarga, dana yang terkumpul dari para peserta diinvestasikan sesuai prinsip syariah. Kemudian, keuntungan yang diperoleh dengan cara mudharabah dibagi lagi untuk semua peserta dan perusahaan asuransi, misalnya 60 persen untuk perusahaan, dan 40 persen untuk peserta.

Termasuk dalam takaful keluarga mencakup takaful berencana, pembiayaan berjangka, pendidikan, kesehatan, wisata dan umroh, serta takaful perjalanan haji. | Produk asuransi yang menguntungkan

Sumber:
http://beritaislamimasakini.com/

Saya adalah seorang blogger dari Indramayu, saya mulai serius blog pada tahun 2014 ketika saya kelas 11 SMA. Pembaca diperbolehkan mengcopy artikel dengan syarat mencamtumkan link halaman sebagai sumber.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »