Dampak Positif Penambahan Porsi Investasi Saham Dari Industri Asuransi

Pada tanggal 6 April lalu, militer Amerika Serikat melancarkan serangan 60 rudal tomahawk ke Suriah. Agresi tersebut menjadi serangan langsung pertama pihak Amerika kepada Pemerintahan Suriah. Hal ini juga menjadi perintah militer paling dramatis pertama yang dilakukan Donald Trump semenjak menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat.

Hingga mengakibatkan harga komoditi minyak menyentuh level tertingginya untuk bulan ini. Misalnya saja minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman naik 0,97 persen ke level US$ 52,24 per barel. Hal ini bisa memberi pengaruh positif terhadap saham di sektor minyak, seperti investor asing yang mencatatkan net buy sebesar Rp 3 triliun.

Baca juga: Masyarakat Indonesia Mulai Sadar Pentingnya Memiliki Asuransi

Prospek IHSG akan kian cerah dengan adanya capital inflow dari investor asing. Di lain pihak, ada institusi lain juga yang terus menambah porsi investasinya di pasar saham, yaitu sektor industri asuransi.

Ada jenis asuransi yang disebut dengan unit link, di mana uang nasabah akan dialokasikan sebagian untuk diinvestasikan oleh perusahaan asuransi agar bisa berkembang nantinya dan ke depannya akan dipakai untuk membayar premi kesehatan nasabah.

Dana nasabah tersebut tidak sepenuhnya (100%) diinvestasikan oleh perusahaan asuransi di pasar saham, tapi sebagian dibagi-bagi lagi ke instrument keuangan yang lain, seperti obligasi, surat utang Negara, dan lain-lain.

Berdasarkan data dari Otoritasi Jasa Keuangan (OJK) bulan Februari 2017 lalu, ternyata porsi investasi di pasar saham mulai ditingkatkan menjadi lebih besar oleh perusahaan asuransi. Kenaikan pada 2 bulan pertama di 2017 lalu adalah sebesar 19,45 persen menjadi Rp 174,85 triliun dari sebelumnya yang sebesar Rp 146,38 triliun.

Dari data tersebut dapat kita hitung terdapat dana masuk ke pasar saham sebesar Rp 28 triliun. Hal ini tentu menjadi sentiment positif untuk IHSG yang terus melanjutkan penguatannya menurun Rp 6 ribu.


Regulasi Pemerintah Menjelang Ramadhan

Saat menjelang Ramadhan, biasanya akan terjadi kenaikan harga bahan-bahan pokok dan biasanya menjadi tak terkendali. Oleh karena itu, akan ada harga acuan untuk 7 komoditas pangan yang akan ditetapkan pemerintah.

Komoditas pangan tersebut antara lain beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabai, dan daging sapi. Dan rencananya pemerintah juga akan mengatur harga acuan untuk komoditas daging ayam dan telur.

Adanya regulasi tersebut biasanya akan berdampak pada emiten-emiten bidang pultry seperti CPIN, MAIN, dan juga JPFA.

Sumber:
Detikfinance

Saya adalah seorang blogger dari Indramayu, saya mulai serius blog pada tahun 2014 ketika saya kelas 11 SMA. Pembaca diperbolehkan mengcopy artikel dengan syarat mencamtumkan link halaman sebagai sumber.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »